Viral Utas Orang Tua Durhaka di Twitter, Psikolog Berikan Komentar


NusaMerdeka ~ Sebuah utas (thread) berisi kisah orang tua durhaka kepada anaknya mendadak viral di media sosial, Twitter.

Kisah tersebut pertamakali dibagikan oleh akun bernama Victoria Yovita.

Utas tersebut berisi tangkap layar percakapan antara Victoria bersama perempuan yang tidak disebutkan namanya ini.

Perempuan tersebut memulai ceritanya dengan menggambarkan latar belakang keluarganya yang berpendidikan.

Orang tuanya menuntutnya untuk selalu menjadi terbaik ketika di duduk dibangku sekolah.

"Walaupun peringat 1, tetap ada salah satu mata pelajaran nilainya tidak berubah, tidak meningkat."

"Maka saya akan tetap dicubit sampai tertidur karena lelah menangis. Entah itu tidur atau pingsan," ucap perempuan ini memulai ceritanya.

Ia melanjutkan, perlakukan orang tuanya itu tidak berlaku untuk adiknya yang berumur lebih muda 6 tahun darinya.

Kondisi dan perlakukan tersebut berlangsung hingga ia menjadi siswi SMA.

Selepas SMA perempuan ini dimasukkan ke lembaga bimbel dalam rangka persiapan masuk fakultas kedokteran (FK) sesuai cita-cita sang ibundanya.

Padahal saat itu dirinya telah dinyatakan bebas tes untuk masuk ke kampus negeri.

"Setiap saya menyampaikan perasaan saya orang tua akan mengecap saya anak durhaka," imbuhnya.

Singkat cerita, setelah mengikuti tes masuk FK dirinya dinyatakan tidak lulus dan diterima di fakultas kesehatan masyarakat.

Pembicaraan pelik terjadi antara perempuan ini dengan orang tuanya mewarnai perjalanan sebelum masuk jenjang perguruan tinggi.

Akhirnya ia diperbolehkan untuk berkuliah di fakultas kesehatan masyarakat, dan harus mempertahankan kelulusan bebas tes di universitas sebelumnya.

"Jadi saya harus kuliah di dua kampus negeri berbeda, yang jadwal kuliah yang berbeda dan jarak kampus yang cukup jauh."

"Saya menolak? Tidak saya pasrah menjalaninya," katanya.

Di usia 16 tahun itu, dirinya mengaku berat menjalani beban dengan berkuliah di dua kampus berbeda sendirian di kota metropolitan.

Untuk memudahkan mobilitasnya, ia memilih tinggal di indekos yang berada di antara dua kampusnya.

Ia menceritakan kos tersebut bercampur dengan kos laki-laki dan kos keluarga.

Sejak tinggal di indekos dirinya mulai menerima teror dari seorang penghuni kos laki-laki berbentuk pelecehan secara verbal dengan menggunakan secarik kertas yang dijatuhkan di depan kamar kosnya.

Hal tersebut terus berulang dan membuat ia tak tahan dan melaporkan ke orang tuanya.

"Saya coba melapor, tapi seolah-olah tidak ada yang peduli? orang tua saya? Tidak mau tahu, mereka hanya menelpon cek nilai, tugas, dan memastikan persiapan saya tes kedokteran lagi," ucapnya.

Berbagai kejadian terus menimpa perempuan ini, dari pelecehan seksual hingga harus terjebak di lingkaran setan kehidupan narkoba dan free sex.

Di usianya menginjak umur 20 tahun, tumor menyerang satu bagian tubuhnya.

Kondisi tersebut mengharuskan berulang kali melakukan tindakan medis operasi.

Dalam kondisi tersebut, dirinya tetap dituntut oleh orang tuanya untuk lulus dalam 3,5 tahun.

"Bekas operasi saya masih basah saat saya penelitian dan ketika sidang."

"Saya memenuhi keinginan mereka dengan 3,5 tahun lulus. Nilai IPK 3,7 Dan langsung bekerja di sebuah perusahan besar," ungkapnya.

Di akhir ceritanya, perempuan ini menitipkan pesan utamanya untuk para calon orang tua supaya lebih mendengarkan isi hati dari anak-anaknya.

Baginya tidak setiap anak bisa mengarahkan luka dan dendamnya ke arah positif dan meraih kesuksesan.

"Tapi bagaimana dengan anak-anak yang berakhir depresi bahkan mati sia-sia?"

"Saya berharap tidak ada lagi anak-anak seperti saya," tutupnya mengakhiri cerita.

Tanggapan Psikolog

Kepala UPT Bimbingan dan Konseling UMM, Hudaniah SPsi MSi memberi pandangannya terhadap cerita di atas.

Ia mengaku prihatin kepada orang tua yang dalam pola asuhnya tidak menghargai potensi anak.

Hudaniah menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

"Misalnya ada orang tua yang frustrasi artinya keinginan di zaman dulu tidak tercapai."

"Ingin jadi dokter tidak tercapai, anaknya yang dipaksa jadi dokter. Ya itulah harga diri," ucapnya kepada Tribunnews, Minggu (12/04/2020).

Hudaniah melanjutkan, pola asuh tersebut juga bisa berasal dari anggapan pengalaman orang tua saat masih kecil yang mendapat didikan serupa dan melihat ada keberhasilan.

Akhirnya menerapkan pendidikan yang pernah ia terima kepada anaknya.

Melihat faktor kedua ini, Hudaniah menegaskan pola pendidikan pada dasarnya berbeda-beda sesuai kapasitas masing-masing anak.

"Dengan karakter anak yang berbeda belum tentu sesuai, karena kapasitas anak berbeda dengan kapasitas beliau ketika menjadi anak."

"Ini yang membuat orang tua dalam mendidik tidak sesuai dengan potensi dan kapasitas anak," imbuhnya.

Faktor ketiga menurut Hudaniah adalah ketidak siapan pasangan ketika menjadi orang tua.

Contohnya seperti usia yang masih terlalu muda, atau pasangan-pasangan yang sebenarnya tidak ingin mempunyai anak.

"Kemudian juga dari sisi sosial orang tua ingin tampil, bahwa saya berhasil mendidik anak saya."

"Menjadi anak yang pintar, anak saya hebat, anak saya kaya. Hal-hal ini yang membuat orang tua terkadang tidak menggunakan metode yang tepat saat mendidik anak,"ujar Hudaniah menguraikan faktor keempat.

Terakhir Hudaniah menyarankan kepada orang tua untuk memperbaiki pola asuhnya yang cenderung mendoktrin anak menjadi lebih terbuka.

"Mengajak diskusi dengan anak. Bukan doktrin, harus A harus B."

"Anak juga punya kapasitas dan potensi sendiri-sendiri yang harus dikembangkan," jelasnya.

(Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Sumber :tribunnews.com

1 Response to "Viral Utas Orang Tua Durhaka di Twitter, Psikolog Berikan Komentar"

  1. Very efficiently written information. It will be beneficial to anybody who utilizes it, including me. Keep up the good work. For sure i will check out more posts. This site seems to get a good amount of visitors. smm panel

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close