Viral Pasien PDP Corona Dilepas RS, Kemenkes Ungk*p Fakta Mengejutkan


NusaMerdeka ~ Sejak kemarin, beredar video seorang perempuan pasien dalam pengawasan (PDP) terkait virus Corona (COVID-19) yang dilepas oleh rumah sakit begitu saja, tanpa perlu diisolasi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengetahui duduk perkara kejadian ini.
Dalam video singkat tersebut, tampak seorang perempuan mengenakan masker. Sambil memegang handphone, dia merekam momen saat berada di rumah sakit.

"Ini aku udah kategorinya PDP (pasien dalam pengawasan) dan rumah sakit itu nggak tahu harus ngapain. Nggak tahu harus gimana. Kita bisa dilepas begitu saja. Disarankan ke empat rumah sakit besar. Tanpa pengawasan," kata perempuan dalam video itu.

Perempuan ini punya kekhawatiran akan kondisi ini. Bukan persoalan tentang dirinya saja, tapi juga kemungkinan apabila dia bisa menularkan virus (seandainya ada) kepada orang lain.

"Artinya kalau aku males lanjut ke rumah sakit besar yang ditunjuk itu, aku cuma balik ke rumah. Lalu baku berhubungan dengan tetangga kanan-kiri. Dan I'm fine, aku ngerasa fine tapi ternyata aku positif, itu nggak tahu dampaknya kayak apa," kata perempuan itu.

Untuk diketahui, pasien dalam pengawasan adalah orang yang harus dirawat dan diisolasi karena menunjukkan gejala influenza mendekati ciri gejala Corona. Jika ternyata pasien ini memiliki riwayat berinteraksi dengan pasien positif Corona, statusnya ditingkatkan menjadi suspect.

Presenter Deddy Corbuzier lantas secara khusus mengundang juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Pria yang akrab disapa Yuri ini lantas mengemukakan apa yang sebetulnya terjadi.

Yuri mengatakan perempuan tersebut berobat ke salah satu rumah sakit swasta. Dalam pemeriksaan di rumah sakit itu, didapatkan kesimpulan pemeriksaan bahwa perempuan ini masuk status PDP.

"Dia adalah pasien yang diyakini PDP. 'Ini kayaknya terinfeksi nih.' Artinya dia PDP," tutur Yuri saat diwawancara dan ditayangkan di akun YouTube Deddy Corbuzier.

Meski pasien tersebut dinyatakan berstatus PDP, RS mengatakan mereka tidak memiliki fasilitas untuk merawat. Oleh karena itu, lanjut Yuri, RS tersebut memberikan pengantar untuk menuju rumah sakit lain.

Namun, menurut Yuri, apa yang dilakukan rumah sakit tersebut salah....

"Itu mekanismenya seperti itu. Tapi sebenarnya kalau kita lihat adalah ya kalau memang (rumah sakit lain) akan diyakinkan, rumah sakitlah itu yang sebenarnya kemudian yang meminta spesimen (pasien) untuk diperiksa," kata Yuri.

"Kalau seandainya dia positif dengan klinis seperti itu, kan tidak membutuhkan fasilitas yang khusus. Yang penting hanya dipisahkan saja dengan pasien lain," sambungnya.

Yuri lantas mengemukakan fakta lain. Apa yang diungkapkan Yuri ini membuat Deddy terkaget-kaget.

"Kita sadari betul bahwa beberapa rumah sakit, dia ingin jaga citranya jangan sampai ketahuan bahwa mereka sedang merawat pasien COVID-19. Kalau ketahuan, pasien lain nanti nggak mau dateng. This is business. Itu yang terjadi," tutur Yuri.

"Banyak sekali rumah sakit yang menolak kasus ini. Artinya, itulah mengapa kami dari awal keras untuk tidak menyebut nama rumah sakit. Kecuali Rumah Sakit Sulianti Saroso dan RS Persahabatan. Karena takdir mereka begitu, menjadi rumah sakit rujukan," sambung pria yang juga merupakan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI ini.

"Wow," kata Deddy. Dia mengulang ekspresi serupa sampai tiga kali.

"Selamat datang di Indonesia," kata Yuri.

"Melanggar hukum nggak sih, Pak, yang dilakukan rumah sakit itu?" tanya Deddy.

"Ya melanggar. Bolehlah dia tolak pasien dengan reasoning yang jelas. Menolak pasien dengan rujukan yang jelas. Tapi bukan kayak pasar, silakan cari sendiri, kami nggak mau nerima," tutur Yuri.

Sumber :detik.com

0 Response to "Viral Pasien PDP Corona Dilepas RS, Kemenkes Ungk*p Fakta Mengejutkan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close