Rahayu,Orangtua Mahasiswa di Wuhan: Kepala Saya Tiba-tiba Pusing, Enggak Enak Makan


NusaMerdeka ~ ”Kejarlah ilmu sampai ke negeri China", itulah yang selalu disampaikan Rahayu (56), kepada putra semata wayangnya Dista Wahyu Prasetyo (21).

Sebagai anak yang berbakti, Dista mencoba mewujudkan pesan sang ibu itu. Ia pun kemudian mendapatkan beasiswa dari kampusnya, Universitas Mercubuana, untuk melanjutkan studi di Wuhan University of Technology.

Namun meski cita-cita untuk kuliah di luar negeri berhasil dicapai Dista, belakangan Rahayu justru merasa khawatir. Pasalnya, kota tempat anaknya menuntun ilmu itu kini sedang dijangkiti wabah virus corona yang mematikan. Sebagai orang tua, Rahayu pun berharap putranya bisa segera kembali ke rumah.

Dista saat ini memang sudah berhasil ke luar dari China. Namun bersama 238 WNI lainnya dari Wuhan, untuk sementara mereka harus dikarantina dulu di Natuna, Kepulauan Riau.

”Saya panik, saya bingung cari informasi ke siapa. Handphone anak sudah mati, saya buta internet. Jadi saya setiap hari cuma nonton tv biar dapat informasi anak saya,” kata Rahayu.

Wartawan Tribun Network, Muhamad Yusuf, menemui Rahayu di kediamannya di Kampung Blok Sawo, RT 001/06, No 25, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Senin (3/1/2020).

Rahayu saat itu tengah menjaga warung kelontongnya di pinggir Jalan Veteran Pos II, bersama suaminya, Andi (50). Ia kemudian mengajak berbincang di rumahnya yang hanya berjarak kurang lebib 50 meter.

Rumah sederhana berwarna putih coklat itu berada di dalam gang selebar 1,5 meter. Di ruang tamunya terdapat gambar Garuda Pancasila yang dibingkai hitam. Selain itu di ruang tamu berukuran 2x2 meter tersebut terdapat foto saat Dista menjadi anggota Paskibra.

Berikut petikan wawancara wartawan Tribun Network dengan Rahayu

Kapan terakhir kali mendapatkan kabar langsung dari putra Anda?
Terakhir jam 6 sore kemarin. Dia telepon saya, katanya handphone-nya disita. Jadi cuma bisa pakai satu handphone untuk dipakai ramai-ramai satu kelompoknya. Tapi cuma bisa telepon saja. Nggak ada WA (WhatsApp). Jadi saya minta kirim foto nggak bisa.

Bagaimana kondisi Dista saat ini?
Alhamdulillah baik. Saya kemarin cuma khawatir karena saat mau dibawa ke Indonesia infonya cuma 238 WNI saja dari 245 WNI yang ada di Wuhan. Saya takut anak saya tidak termasuk yang akan dipulangkan. Saya telepon, handphone-nya sudah mati.

Saya buta internet, nggak tahu harus menghubungi siapa. Jadi setiap hari cuma saya di depan TV. Berharap ada kabar anak saya atau setidaknya muncul di TV. Tapi alhamdulillah sekarang sedang di karantina di Natuna.

Dista kan harus dikarantina dulu dan tidak langsung dipulangkan ke rumah?
Tidak apa-apa.Saya tetap senang. Yang penting ke luar China dulu. Kan di Natuna juga diperiksa. Istilahnya dibersihkan. Saya kurang tahu kapan pulangnya. Menurut TV 14 hari.

Dista cerita kegiatannya apa saja di saat dikarantina?
Nggak cerita banyak. Karena teleponnya juga terbatas. Dia cuma bilang sempat diperiksa kesehatannya. Kegiatan lainnya belum ada dan mungkin belum sempat cerita.

Bagaimana saat Anda tahu virus corona muncul di tempat Dista kuliah?
Saya sempat kaget, panik. Kepala saya tiba-tiba pusing berat dan nggak enak makan. Saya benar-benar khawatir. Saya telepon Dista, justru dia yang menenangkan. Katanya dia baik-baik saja dan saya jangan khawatir. Di sana memang katanya ada pasar tradisional yang diduga awal munculnya virus itu.

Tapi dia aman di messnya. Biasanya saya telepon 2-3 hari sekali, tapi sejak ada kasus itu, saya telepon setiap hari.

Apakah ada keluhan dari Dista saat masih Wuhan?
Dia cuma keluhkan harga makanan yang mahal seminggu sebelum imlek. Stok makanan berkurang. Tapi saya awal Januari sempat kirim uang. Ya, meski uangnya juga dari mana-mana. Katanya KBRI juga sempat bantu beri uang untuk beli bahan makanan. Selain itu dia juga tidak bisa ke mana-mana. Karena harus tetap berada di mess.

Apa Dista sempat minta pulang?
Enggak. Dia tenang saja. Yang penting dia ngikutin peraturan pemerintah saja. Dia nyaman. Cuma nggak bisa ke mana-mana, cuma di mess saja. Dia sekamar dua orang. Tapi temannya sudah pulang Januari ini, jadi dia sendiri. Teman sekamarnya orang Indonesia satu kampus di sana.

Apakah sempat ada sedikit rasa menyesal mengizinkan Dista kuliah di China?
Kalau itu nggak, karena dia kan menuntut ilmu. Itu kan musibah aja. Nggak nyesal. Kan buat pengalaman anak juga.

Memang bagaimana awalnya, Dista bercita-cita kuliah di luar negeri?
Dulu saya selalu berpesan, capailah ilmu setinggi langit. Carilah ilmu sampai ke negeri China. Meskipun kita orang begini, tapi kan kalau anak pintar kami bangga. Orangtua nggak bisa kasih harta, tapi bisa kasih ilmu yang vermanfaat. Mau kasih banda (barang) juga nggak ada.

Biar dia cari pengalaman. Malah Dista bilang nanti S2 mau ke Belanda. Katanya mau membanggakan ibu. Ambisinya mencari ilmu memang luar biasa. Dia memang pinter, supel, pandai bergaul, IP-nya selalu di atas 3.

Bagaimana cerita Dista bisa kuliah di Wuhan?
Dia kuliah di Universitas Mercubuana ambil jurusan Teknologi Informatika. Saat semester 6 dia dapat beasiswa dari kampusnya kuliah di Wuhan. 2 September 2019 dia berangkat ke China. Rencananya selesai kuliah dan kembali ke Indonesia sekitar Juli 2020.

Apakah sudah ada pihak Pemerintah atau kampus yang menghubungi Anda?
Baru pihak kampus. Mereka kemarin datang ke sini, menanyakan kabar. Karena mereka telepon Dista nggak bisa. Biasanya kan langsung ke Dista berkabarnya. Kampus telepon terus saat kasus itu. Cukup perhatian.

Nanti saat Dista pulang, apa yang Anda minta?
Saya cuma minta dia harus wisuda. Jangan sampai nggak lulus. Kalau lewat masa kuliahnya 8 semester saya nggak mau biayain. Saya sehari-hari cuma jualan di warung kelontong bersama bapaknya.

Tanggapan keluarga dan tetangga mengenai Dista yang kuliah di Wuhan?
Mereka dukung saya. Mereka selalu mendoakan. Saya juga minta kepada mereka agar selalu mendoakan dan Dista diberikan kesehatan.

Sumber :tribunnews.com

0 Response to "Rahayu,Orangtua Mahasiswa di Wuhan: Kepala Saya Tiba-tiba Pusing, Enggak Enak Makan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close