Alasan 3 Anak Presiden Pantas Masuk Kabinet Jokowi-Maruf, Dinilai dari Unsur Sosial hingga Politik


NusaMerdeka ~  Masa pemerintahan periode 2014-2019 akan segera berkahir.

Pada 20 Oktober 2019 nanti, pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih akan digelar.

Presiden Jokowi kembali terpilih untuk memimpin Indonesia dengan didampingi wakil presiden baru yakni, Maruf Amin.

Pergantian masa pemerintahan pastinya akan merubah seluruh kabinet negara.

Kini nama-nama calon menteri Jokowi-Maruf Amin masih menjadi tanda tanya besar.

Mereka tentunya nanti akan menjadi kabinet kerja dibawah kepemimpinan Jokowi-Maruf Amin periode 2019-2024.

Meski belum pasti siapa saja yang akan duduk di kabinet Jokowi, terdapat tiga nama anak mantan presiden Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi menteri.

Mereka ialah, Ilham Habibie, putra BJ Habibie, Agus Yudhoyono (AHY), putra Susilo Bambang Ydhoyono (SBY), dan Yenny Wahid putri Gus Dur.

Ketiga nama itu dianggap berpotensi untuk masuk dalam jajaran menteri.

Lalu benarkah mereka akan menjadi anggota kabinet Jokowi-Maruf?

Kita tunggu saja setelah proses pelantikan nanti.

Tiga Anak Presiden Masuk Kabinet Jokowi Kiai Maruf

Teka teki siapa yang bakal masuk kabinet pemerintahan Jokowi-Kiai Maruf masih misteri.

Namun, beberapa nama diyakini akan masuk dalam komposisi kabinet pemerintahan mendatang, pasca Jokowi Kiai Maruf akan dilantik tanggal 20 Oktober.

"Pak Jokowi memang menarik dan misterius," ujar pengamat politik M Qodari mengawali perberbincangan dengan tribun, Selasa (8/10/2019).

Ia memaklumi, banyak yang bertanya-tanya siapa kelak yang akan dipercaya Jokowi untuk membantu di kabinet.

Namun, satu nama yang kemungkinan sudah hampir pasti masuk kabinet adalah Bahil Lahadalia, Ketua Umum HIPMI.

Minggu (26/5/2019) lalu, Presiden Jokowi merasa Bahlil Lahadalia cocok jika menjadi menteri.

Hal itu ia sampaikan saat menyampaikan pidato pada acara Silaturahim Nasional dan Buka Puasa Bersama HIPMI di Ritz-Carlton, Kuningan Jakarta.

"Saya melihat-lihat adinda Bahlil ini kelihatannya cocok jadi menteri.

Saya lihat dari samping, saya lihat dari bawah ke atas, cocok ini kelihatannya," kata Jokowi disambut sorakan dan tepuk tangan para peserta acara HIPMI ketika itu.

Qodari mengungkap 55 persen kabinet akan diisi oleh kalangan profesional dan 45 persen diisi dari kalangan partai politik.

Dari unsur partai politik, menurut Qodari mudah ditebak siapa yang akan dipercaya Jokowi.

"Misalnya dari PDI Perjuangan pak Budi Gunawan, Eriko Satorduga dan yang lain. Diluar itu, nama-nama yang mungkin mewakili kelompok atau ormas besar. Atau, dari keluarga politisi atau anak Presiden. Misalnya, Yenny Wahid, putri Presiden Keempat, Gusdur," kata Qodari.

"Dugaan saya Yenny masuk kabinet, berpeluang. Kemudian, Ilham Habibie anaknya pak Habibie. Ilham yang notabene punya perhatian kepada masalah sosial poltik, di ICMI. Kemudian yang pasti ingin masuk juga dan sinyalnya jelas dari Demokrat adalah AHY, putra pak SBY," ia menjelaskan.

Ia berbeda pandangan jika ada anggapan putra Presiden Ketiga Megawati Soekarnoputri, Prananda Prabowo (mas Nanan red) akan masuk di kabinet pemerintahan Jokowi-Kiai Maruf mendatang.

Menurutnya, ada semacam pembagian tugas antara Puan Maharani dan Nanan.

"Puan di politik praktis. Sementara Nanan menjaga gawang, jaga partai. Dan saya lihat mas Nanan, tipenya bukan eksekutor. Tapi pemikir atau idiolog. Jadi, kemungkinan ada tiga anak presiden yang berpeluang masuk kabinet," kata dia.

"Dan ini bisa menjadi, paling tidak proses generasi politik ke depan. Karena tahun 2024 akan menjadi generasi baru," lanjutnya.

Sementara tiga srikandi di kabinet saat ini, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi masih memiliki peluang.

Pengamat politik Yasin Mohammad mengatakan, sejumlah menteri berlatang belakang profesional berpeluang dapat dilantik kembali menjadi pembantu presiden.

Yasin yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) itu melihat, kebijakan Menteri Susi yang melawan ilegal fishing dengan penenggelaman kapal perlu diapresiasi.

"Dalam konteks penenggelaman ibu Susi paling tinggi, prestasinya dalam law enforcement atau perang melawan ilegal fishing patut diapresiasi," ujar Yasin.

Kemudian, Sri Mulyani dinilai telah mampu membuat kebijakan yang dapat menyeimbangkan neraca keuangan negara.

"Pola yang dimainkan adalah kebijakan ekonomi liberal, membuka akses investasi dari luar. Investasi ini dibuka dalam rangka menyeimbangkan neraca keuangan," katanya.

Yasin menilai Retno selama menjadi Menteri Luar Negeri sudah membuahkan hasil yang nyata dalam berkomunikasi ke luar negeri.

Bahkan, telah membawa Indonesia sebagai Dewan Kehormatan di PBB.

Sementara menteri yang berpotensi tidak terpilih kembali masuk jajaran Kabinet Kerja jilid dua, berasal dari menteri dari kalangan partai politik.

Ia mencontohkan, Airlangga Hartarto yang menjabat Menteri Perindustrian belum menorehkan prestasi yang signifikan.

"Memperin belum ada terobosan baru, tidak ada perkembangan signifikan. Saya kira kinerjanya belum maksimal di bidang perindustrian," paparnya.

"Lalu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, banyak melakukan kebijakan-kebijakan impor yang menimbulkan polemik," sambung Yasin.

Selanjutnya, Kinerja Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, kata Yasin, tidak mampu melindungi buruh atau para pekerja.

"Dia tidak bisa menjembatani antara pihak buruh dan perusahaan.

Ada 4 ribu buruh yang di PHK masal, mereka datang ke Manaker tapi menterinya manggil Direktur Krakatau Steel saja tidak bisa," kata Yasin.

Dinilai menguntungkan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai perlu memasukan anak mantan Presiden RI dalam Kabinet Kerja jilid ll untuk menghilangkan tekanan dari partai politik pendukungnya.

Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, memasukan Yenny Wahid dan Ilham Habibie sebagai menteri, pastinya akan memberikan dampak positif terhadap Presiden Jokowi.

"Tentu memiliki keuntungan politik, setidaknya hal ini dapat memperkuat barisan dukungan dari kalangan masyarakat sipil," ujar Ray Rangkuti saat dihubungi, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Dengan mengakomodir masukan dari masyarakat sipil, kata Ray Rangkuti, secara tidak langsung Jokowi telah membuktikan tak ada tekanan dari partai politik pendukungnya dalam menyusun Kabinet Kerja Jilid ll.

"Jokowi lah yang paling menentukan adanya dukungan masyarakat sipil. Jika terus menerus memenuhi hasrat partai politik, dapat membuat Jokowi berjarak dengan pemilihnya," kata Ray Rangkuti.

Ray Rangkuti pun melihat Yenny Wahid dan Ilham Habibie memiliki keahlian di bidangnya masing-masing.

Bahkan keduanya berkontribusi memenangkan Jokowi dalam Pilpres 2019.

"Yenny dan Ilham Habibie memang tidak berlebihan dilirik sebagai calon anggota kabinet.

Adapun soal AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) kemungkinan akan dimasukkan dalam lingkaran Jokowi, sekalipun tidak melihat potensinya akan dimasukan ke dalam kabinet," kata Ray Rangkuti. (TribunNewsmaker/*)

Sumber :tribunnews.com

0 Response to "Alasan 3 Anak Presiden Pantas Masuk Kabinet Jokowi-Maruf, Dinilai dari Unsur Sosial hingga Politik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close