Viral Warga Pati Jalani Topo Pendem, Dikafani Seperti Jenazah dan Dikubur Hidup-hidup Selama 5 Hari


NusaMerdeka ~ Seorang warga Pati, Supani (63), menjalani ritual topo pendem.

Ia dikafani seperti jenazah pada umumnya.

Pada ritual tersebut, Supani juga akan dikubur hidup-hidup selama 5 hari.

Seorang warga Desa Bendar, RT 3 RW 1, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjalani ritual topo pendem.

Pria berusia 63 tahun tersebut menjalani ritual yang telah biasa ia lakukan di rumahnya sendiri pada Senin (16/9/2019) seusai maghrib.

Pada ritual tersebut, Supani atau Mbah Pani akan dikubur di dalam tanah layaknya jenazah.

Kabar soal ritual ini juga tersebar luas di media sosial termasuk Facebook.

Akun pengguna Facebook Yuni Rusmini mengunggah beberapa video dan foto ritual topo pendem.

Dalam unggahan yang telah dilihat ribuan orang tersebut, tampak para warga mencangkul untuk menutup lubang kubur Mbah Pani.

Pada video lain,  Mbah Pani tengah bersiap di samping liang kuburnya dan menggunakan kain kafan.


Lalu apa sebenarnya tujuan dari ritual ini?

Berikut ini fakta lengkapnya dirangkum Tribunnews dari Tribun Jateng.

1. Sosok Supani

Mbah Pani merupakan seorang warga di Kecamatan Juwana Pati.

Ia dikenal sebagai seorang pemain senior seni tradisional ketoprak.

Selain menjadi seorang seniman ketoprak, Mbah Pani juga menjadi pedagang bakso.

Ia memiliki seorang istri dan dua anak, serta anak angkat.

Carik Bendar Sutoyo mengatakan bahwa Mbah Pani adalah sosok yang rajin dalam beribadah.

"Dia selalu di musala. Setiap waktu salat dia yang azan. Salat lima waktu selalu di musala," katanya, Senin (16/9/2019).

2. Sudah ritual ke-10 sejak 1991

Supani telah menjalani ritual topo pendem sejak tahun 1991.

Ritual yang dilakukan kali ini menjadi ritual ke-10 yang dijalani oleh Mbah Pani.

Hal ini disampaikan oleh anak angkat Mbah Pani, Suyono.

"Topo pendem seperti ini sudah dilakukan beliau sebanyak sembilan kali. Dan hari ini adalah yang ke-10," katanya, Senin (16/9/2019).

Dari keterangan warga, ritual terakhir yang dilakukan oleh Mbah Pani yakni pada tahun 2001.

3. Prosesi topo pendem

Prosesi topo pendem dilakukan setiap bulan Suro.

Sama halnya dengan prosesi pengurusan jenazah, Supani menggunakan kain kafan.

Tak hanya itu, disiapkan pula peti yang akan digunakan untuk tubuh Supani, bunga-bunga dan beberapa perlengkapan lain.

Supani akan dikubur hidup-hidup dalam liang kubur berkuruan 2 meter x 1,5 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter.

Peti dimasukkan ke dalam liang kubur tersebut.

Ada pula bantal dari tanah.



Namun, prosesi yang disebut sakral itu tak boleh disaksikan oleh banyak orang.

Hanya keluarga dan tokoh masyarakat setempat yang diperkenanankan masuk.

Yang berbeda dari ritual penguburannya adalah tidak dilakukan azan.

Dikatakan Sutoyo, dari cerita Supani, azan dilakukan untuk orang yang meninggal dunia.

"Tapi tidak diazani. Karena menurut pesan dari Pak Pani, kalau azan itu ritual pelaksanaan orang meninggal dunia,"

Ada pula pipa untuk saluran pernapasan yang menghubungkan Mbah Pani dari dalam kubur ke permukaan tanah.

4. Tujuan topo pendem

Saat ditemui Tribun Jateng, Mbah Pani enggan untuk memberikan penjelasan sebelum ritual topo pendemnya selesai.

Senada dengan Supani, Sutoyo juga enggan untuk memberi keterangan.

"Tentang ritual ini, berdasarkan pesan Pak Pani, kejelasannya belum bisa disampaikan saat ini.

Besok kalau sudah selesai bertapa baru bisa menjelaskan sesuatu yang ada di dalam.

Tujuan ritual ini juga belum bisa disampaikan saat ini, karena dia mungkin punya rahasia.

Punya sesuatu yang kaitannya dengan ritual," katanya.

Supani dikabarkan biasa melakukan ritual tersebut setiap setahun sekali yakni saat bulan Suro.

Namun, sejak 2001 ritual tersebut belum dilakukan lagi lantaran Supani sempat mengalami stroke.

"Beberapa waktu setelah ritual ke-9, beliau sempat sakit stroke. Jadi ritual penutup baru bisa dilaksanakan hari ini," kata Carik Bendar, Sutoyo, pada Senin (16/9/2019).

Sementara itu, sebelum prosesi dilakukan, saat ditemui oleh Tribun Jateng, Supani tampak tenang.

Topo pendem kali ini menjadi ritual ke-10 sekaligus terakhir baginya.

"Karena ini yang terakhir, nanti tidak cuma tiga hari, tapi lima hari," katanya singkat.

(Tribunnews.com/Tribun Jateng/Mazka Hauzan Naufal)

Sumber :tribunnews.com

0 Response to "Viral Warga Pati Jalani Topo Pendem, Dikafani Seperti Jenazah dan Dikubur Hidup-hidup Selama 5 Hari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close